Saat ini, WhatsApp dikenal sebagai aplikasi instant messaging yang paling banyak digunakan di dunia. Potensi WhatsApp sudah tercium sejak dibuat pada tahun 2009, karena aplikasi ini bisa menjadi alternatif pengganti aplikasi BlackBerry Messenger (BBM) yang kala itu sangat populer. Di rubrik biografi kali ini, @Gadgetgaul akan mengulas kisah dari salah satu tokoh yang mendirikan WhatsApp, Jan Koum.

Jan Koum lahir di Kyiv, Ukraina pada tanggal 24 Februari 1976 dan menjalani masa kecilnya di kota Fastiv. Karena tinggal di negara dengan situasi politik yang kurang kondusif, Koum beserta ibu dan neneknya terpaksa pindah ke Mountain View, California pada tahun 1992. Tanpa ayahnya yang tetap tinggal di Ukraina, Koum harus berjuang untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan bekerja sebagai tukang sapu di toko kelontong. Ibunya sendiri yang awalnya berstatus sebagai ibu rumah tangga juga harus bekerja sebagai pengasuh anak.

Karena penghasilan yang didapat masih belum sebanding dengan kebutuhan yang ada, Jan Koum mengandalkan jatah makanan gratis untuk para tunawisma atau gelandangan. Untungnya, Koum sudah mahir berbahasa Inggris sehingga mudah untuk masuk ke sekolah di Amerika. 

Di sekolahnya ini, ia mendalami minatnya akan ilmu programming dengan masuk ke dalam grup hacker bernama w00w00. Ia pun melanjutkan pendidikan dengan masuk di San Jose University sembari bekerja sebagai penguji sistem keamanan computer di Ernst & Young.

www.yosuccess.com

www.yosuccess.com

Pada tahun 1997, hidup Jan Koum mulai berubah drastis sejak ia bertemu dengan Brian Acton. Sejak bertemu dengan Acton yang kelak menjadi partnernya dalam mendirikan WhatsApp ini, Koum mendapatkan pekerjaan sebagai infrastructure engineer di Yahoo dan mendapat tugas untuk menangani proyek periklanan. Karena masa perkuliahannya belum selesai ketika diterima di Yahoo, Koum memutuskan untuk drop out dan fokus pada pekerjaannya setelah sempat dimarahi oleh CEO Yahoo ketika itu, David Filo.

Setelah bekerja selama hampir 10 tahun di Yahoo, Koum dan Acton memutuskan untuk keluar dan berlibur selama setahun di wilayah Amerika Selatan. Ketika mereka kembali dan melamar di Facebook, mereka ditolak. Pada tahun 2009, dimana iPhone sedang menjadi fenomena baru, Koum membelinya dan tertarik pada layanan App Store yang baru berumur 7 bulan.

Ia mendapat sebuah ide sebuah aplikasi yang dapat menampilkan status pada kontak telepon di iPhone. Ide itulah yang kemudian mendorong terciptanya aplikasi WhatsApp. Koum pun menceritakan idenya pada temannya yang bernama Alex Fishman selama berjam-jam di meja dapur di rumah Fishman. Fishman kemudian memperkenalkan Koum dengan Igor Solomennikov, seorang developer aplikasi iPhone. 

Dari perkenalannya ini, ide Koum pun terwujud dan ia memberi nama “WhatsApp” pada aplikasi ini karena terdengar seperti “What’s up?”, sesuai dengan ide awal penciptaan aplikasi ini.

www.forbes.com

www.forbes.com

Popularitas WhatsApp yang berkembang dengan pesat dalam waktu singkat pun mendapat perhatian Facebook. Mark Zuckerberg mulai melakukan kontak dengan Koum pada tahun 2012, bertemu di sebuah kafe di Los Altos, melakukan pembicaraan sembari makan malam, dan berjalan-jalan di bukit di Silicon Valley. Dan pada tanggal 9 Februari, Zuckerberg mengajak Koum untuk makan malam di rumahnya dan menawarkan Koum satu kursi sebagai petinggi Facebook. 

10 hari kemudian, Facebook mengumumkan jika mereka telah menggaet WhatsApp dengan harga U$19 miliar atau sekitar Rp250 triliun. Saat ini, jumlah kekayaan Jan Koum diperkirakan mencapai U$9.7 miliar atau sekitar RP127 triliun, bukan angka yang kecil untuk seorang yang dulunya memiliki hidup seperti gelandangan. 

via Wikipedia.org 

WN