Beranda Review

[REVIEW] Evercoss One X : Android One

13
0

Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini membuat semua hal menjadi mudah. Termasuk teknologi ponsel / smartphone. Sayangnya tidak semua kalangan bisa menikmati kemudahan yang ditawarkan oleh sebuah smartphone. Di situlah alasan Google menciptakan Android One.

Menggandeng 3 produsen lokal, Google akhirnya masuk ke Indonesia. 3 Produsen beruntung tersebut yaitu Mito, Evercoss dan Nexian. Mengusung Android versi terbaru yaitu Android 5.1 Lolipop, Android one menjadi ponsel pertama di dunia yang menggunakan sistem operasi ini.

Evercoss One X menjadi salah satu Android One yang bisa diperhitungkan. Dibanderol dengan harga Rp 999 ribu selama masa promosi dan 1.299.000 saat harga normal, One X menjadi varian yang memiliki harga paling mahal di antara yang lain. Pihak Evercoss sendiri memiliki alasan tersendiri kenapa banderol One X di atas kompetitornya. Banyak tersedianya service center di seluruh indonesia menjadi alasan utama mengapa One X dibanderol lebih mahal dibandingkan Android One vendor lainnya.

Saya tidak tahu kenapa pihak Evercoss memberikan nama “One X” yang secara otomatis akan mengingatkan kita terhadap salah satu ponsel flagship merek besar ternama. Tapi … aaah sudahlah… Ayo kita ungkap tabir si One X ini.

paket_penjualan-Evercoss-GG

Paket Penjualan

  • Unit
  • Flip cover
  • Kabel data
  • Kepala charger
  • Buku garansi
  • Buku manual
  • dus

Fitur Unggulan

     Fitur :

  • IPS Capacitive Display 4.5 Inch FWVGA 854 x 480 (218dpi)
  • Versi Android terbaru (Lolipop 5.1)
  • MediaTek 6582 quad-core 1.3 Ghz, RAM 1GB dan penyimpanan 8GB
  • Slot memori external mendukung hingga 32GB
  • Kamera belakang 5MP, kamera depan 2MP
  • Dual sim, dual standby
  • Baterai 1700mAh

     Kekurangan :

  • Harga paling mahal di antara 2 kompetitor lainnya
  • Terasa lebih berat dari 2 kompetitor lainnya
  • Baterai terasa boros
  • Tidak tersedia anti gores pada paket penjualan

Hardware

Cover-EvercossOneX-Putih-GG

Memiliki desain sedikit membulat dan terlihat tidak kaku, membuat One X nyaman di genggam. Berbahan dove pada bagian belakang memberikan kesan mewah. Sekilas mirip Polycarbonate. Terasa mantap dan tidak meninggalkan sidik jari. One X sendiri tersedia dalam 2 warna, yaitu hitam dan putih. Kebetulan unit yang saya dapatkan berwarna putih.

Terdapat earphone, kamera depan dan lampu notifikasi pada bagian depan. Lubang earphone pada bagian atas, lubang charger / microUSB pada bagian bawah, tidak terdapat apa-apa di bagian kiri. Terdapat kamera, lampu flash, speaker, logo EVERCOSS & Android ONE. Di bagian kanan terdapat volume rocker & tombol power.

Ada yang menarik dari peletakan posisi tombol volume dan power. Pada umumnya tombol power akan berada di bawah tombol volume, di Android One (semua merek) memiliki posisi yang terbalik. Hal ini menjadi kendala bagi yang pertama kali menggunakan ponsel ini. Karena akan sering mengalami suatu hal yang disebut “salah pencet”.

Tombol-Evercoss-OneX-GG

Ponsel berdimensi 132 x 67 mm ini memiliki tebal bodi hanya 9.2 mm saja. Ponsel ini juga cukup ringan karena memiliki bobot 105 gram, membuat ponsel ini sangat nyaman digenggam dan dioperasikan dengan satu tangan.

Sementara untuk kebutuhan penyimpanan, Evercoss dibekali ruang penyimpaan berkapasitas 8GB untuk kapasitas internalnya. Merasa kurang? Gak usah khawatir, One X menyediakan slot ekspansi memori berjenis microSD yang dapat diupgrade hingga 32GB.

Pada sisi sensor, One X tergolong lengkap. Terbukti hanya sensor suhu saja yang tidak tersedia di ponsel ini.

Topik Hot Lainnya:   Kini Tersedia Lenovo A6010 Bundling Dengan Smartfren

SensorBox-EvercossOneX-GG
Display
Di sisi layar, One X memiliki bentang layar 4.5 dengan resolusi FWVGA 480 x 854. Memiliki kerapatan hingga 218 ppi membuat layar One X nyaman untuk dilihat berjam-jam. Layarnya sendiri tergolong responsif tanpa kendala. One X menggunakan teknologi IPS capacitive touchscreen yang menawarkan tampilan warna yang cukup baik dengan tingkat kontras yang optimal.

Display-Evercoss-OneX-GG

Tidak digunakannya teknologi One Glass Solution (OGS) menjadi kelemahan tersendiri pada sektor layar yang membuatnya terasa sedikit ada gap saat kita melihat layar dari samping. Hal ini juga membuat sudut pandang One X menjadi kurang luas.

Software

LollipopUI-Evercoss-OneX-GG

Harga yang murah bukan berarti murahan. Nampaknya itu cocok untuk One X. Memiliki banderol yang hanya “sejutaan”, ponsel ini sudah mengusung sistem operasi yang PALING BARU di dunia dari Google, yaitu Android Lolipop 5.1. Bahkan seri Nexus aja belum dapat update Android versi ini. Keren khan?

Memiliki tampilan antarmuka khas Android Lolipop, Transisi antar layar terasa lancar tanpa hambatan. Fitur notifikasi pada lockscreen terasa lebih canggih. “Floating Recent Apps” juga membuat Lolipop terasa lebih indah.

Kamera

Kamera-Evercoss-OneX-GG
Beralih ke sektor kamera. Walau harganya murah bukan berarti ponsel ini miskin fitur pada bagian kamera. Gak percaya? Nih simak.

Kamera utama One X memiliki sensor 5 MP dan resolusi maksimal 2592 x 1944 pixels. Selain itu ponsel ini juga sudah memiliki fitur pendamping wajib kamera yaitu autofocus, LED flash, Geo-tagging, touch focus, face detection dan panorama. Gambar yang dihasilkannya pun cukup baik pada kondisi cahaya yang cukup atau outdoor. Untuk dalam ruangan pun, gambar yang dihasilkan cukup baik.

Camera-Setting-EvercossOneX

Dengan aplikasi bawaan, Gadgeteers dapat merekam video berkualitas untuk kamera belakang dan 720p untuk kamera depan. Suka selfie? Tenang! One X punya kamera depan yang bisa diandalkan. Memiliki sensor berukuran 2MP pada kamera depan menurut saya sudah cukup untuk ber-selfie ria.

Cerita berbeda terjadi saat kita menyalakan fitur flash. Entah mengapa setiap menggunakan fitur flash, gambar yang dihasilkan justru menjadi “over-exposure“.

Camera-OverExposure-OneX-GGKesimpulannya, hasil jepretan kamera pada ponsel ini terbilang lumayan. Mengingat tidak ada yang spesial yang ditawarkan pada sektor ini selain adanya autofocus dan flash. Absennya fitur “makro” menjadikan ponsel ini tidak dapat diandalkan untuk pengambilan gambar dalam jarak sangat dekat. Selain masalah pada flash, hasil tangkapan kamera juga cenderung gelap. Objek foto benar-benar membutuhkan cahaya yang cukup.

Audio & Music Performance
Mungkin banyak yang melupakan sektor ini. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit pengguna ponsel yang memanfaatkan ponselnya sebagai audio player.

Audio chipset yang digunakan Android One masih misteri buat @GadgetGaul. Tapi mengingat ini merupakan ponsel berprosesor MediaTek, saya berspekulasi kalau ponsel ini menggunakan Texas Instrument (Ti). Dan karakter suaranya pun identik dengan ponsel-ponsel ber-chipset Ti. Berikut peralatan “perang” yang digunakan untuk melakukan pengujian di sektor audio :

  • N7 Player tanpa menggunakan Audio Enhancement untuk mengetahui batas kemampuan sesungguhnya dari sisi hardware.
  • Lagu yang diputar Bruno Mars – When I Was Your Man (Lagu Galau) & Girl’s Generation – Mr. Mr dan beberapa lagi lainnya. Semua lagu ber-format FLAC lossless artinya tanpa kompresi.
  • Shure 215 SE untuk earphone.

Audio-Evercoss-OneX-GG
Dari hasil pengujian yang @GadgetGaul lakukan berikut kesimpulannya :

Topik Hot Lainnya:   [REVIEW] Asah Kreativitas Menyatukan Dua Sejoli di Game Love Balls

Plus :

  • Suara yang dihasilkan memiliki karakter warm. Cocok untuk musik yang dominan pada bass.
  • Bass terasa bulat, deep, dan ga beleber (bukan Nieber ya :P)
  • Detail baik. Suara tarikan nafas si Taeyeon masih terdengar jelas.
  • Separasi (pemisahan antar instrumen) cukup baik. Antar instrumen musik ga saling nutupin.
  • Stagging cukup walau tidak terlalu luas.

Minus :

  • Saat volume tinggi, bass sedikit menutup vokal. Terutama di lagu-lagi ber-genre yang memiliki bass yang banyak

Kesimpulannya, di sini Google kembali membuktikan kualitasnya. Tidak perlu embel-embel Audio Enhancement seperti DTS, Dolby Surround, Beats, dll. Untuk ponsel seharga Rp1 jutaan, @GadgetGaul berani jamin Evercoss One X mempunyai kualitas yang “ga malu-maluin”. Kualitas suara yang dihasilkan ponsel ini masuk kategori baik. Berbeda dengan ponsel-ponsel lain dengan range harga yang sama yang memberikan kualitas “ala kadarnya”

Performa & Baterai
Di sisi hardware, One X mempersenjatai ponsel ini dengan chipset Mediatek MT6582 Quad-Core Cortex A7 berkecepatan 1.3 GHz. Dapur pacu tersebut didampingi dengan RAM 1GB yang tergolong cukup . Membuat aplikasi-aplikasi yang haus akan RAM dapat dijalankan dengan baik. Saat melakukan proses multitasking pun, One X tidak terlihat loyo.

RealRacing3-EvercossOneX

Kritika-Evercoss-One-X
Untuk urusan grafis, One X mempercayakannya pada Mali 400MP2. Terbukti GPU ini mampu menjalankan game-game 3D dengan lancar. Dari beberapa game yang saya coba seperti Real Racing 3 dan Kritika, ponsel ini dapat menjalankannya dengan baik. Hanya saja pada game Real Racing 3 terjadi beberapa kali terdapat frame drop meski tidak sampai mengganggu kenyamanan dalam memainkan game tersebut.

Dari hasil pengujian pada beberapa aplikasi benchmark, bisa disimpulkan bahwa One X mampu bersaing dengan beberapa ponsel sekelasnya.

benchmark-Evercoss-OneX-GG

One X menyediakan dua slot SIM yang dapat standby secara bersamaan. Untuk transfer data-nya sendiri, One X dapat berjalan di jaringan 3G HSDPA untuk slot 1 dan 2G untuk slot 2. Tapi sayangnya ponsel ini belum mendukung konektivitas 4G LTE.

Doyan nimbrung di Sevel / Lawson / tempat nongkrong ber-hotspot gratis? Tenang, One X sudah memiliki fitur WiFi dan hotspot. Untuk kebutuhan transfer data , One X juga sudah memiliki Bluetooth dan juga port USB.

Dengan banyaknya fitur yang dimiliki oleh One X, apakah baterai sebesar 1.700 mAh sanggup mengakomodasi itu semua? Jawabannya silahkan nilai sendiri dari hasil statistik penggunaan baterai berikut 😀

Battery-EvercossOneX-GG

Nampaknya bug yang sempat muncul pada Android L versi sebelumnya belum hilang di Android 5.1 Lollipop. Perlihat proses “miscellaneous” pada statistik baterai mendominasi jumlah penggunaan baterai. Di beberapa forum diskusi luar negeri pun sempat membahas masalah ini. Ada pula yang mengatakan bahwa ini sebenarnya normal karena “miscellaneous” dalam hal ini adalah penggabungan dari penggunaan beberapa aplikasi yang memang tidak terdaftar di statistik baterai.

Kesimpulan
Dari hasil beberapa pengujian diatas dapat disimpulkan bahwa mungkin inilah ponsel yang akan menjadi ponsel sejuta umat kelak. Dibanderol dengan harga tidak sampai sejuta rasanya menjadi sesuatu yang “WOW” mengingat spesifikasi yang ditawarkan tidak bisa dipandang sebelah mata. Solusi bagi mereka yang ingin memiliki sebuah smartphone serba bisa dengan berharga terjangkau.