Beranda Review

Review Smartfren Andromax A

98
1

Smartphone 4G LTE hanya Rp600 ribuan? Bisa apa smartphone semurah ini? Saya Arya dari @gadgetgaul dan inilah review Andromax A.

Biasa smartphone murah tidak mempedulikan build quality, tapi tidak dengan Andromax A. Desain bodinya rapi, tidak bunyi krek-krek kalau ditekan. Saya suka dengan bahan plastik doff di bodi belakang sampai ke frame samping ini, sangat lembut dan tidak mudah meninggalkan bekas minyak kalau dipegang lama. Penempatan tombol power & volume di sisi kanan mudah djangkau jempol, saat ditekan juga empuk. Hanya saja respons tombol power-nya agak lambat, terasa ada jeda saat menyalakan perangkatnya. Terlepas dari absennya backlight pada tombol kapasitif dan tidak ada LED notifikasi, desain Andromax A menurut saya sudah top untuk smartphone dengan harga Rp600 ribuan.

Desain-Andromax-A-GG

Bagian muka didominasi layar 4.5-inch beresolusi WVGA dengan kerapatan 218 ppi. Tentu tidak serapat layar HD apalagi Full HD, tapi resolusi layar ini masih cukup nyaman buat melihat-lihat foto-foto gebetan di Instagram. Keterlihatan layar di  bawah terik sinar matahari patut diacungi jempol berkat teknologi SVI (Sunlight Visibilty Improvement). Bukan, bukan sabun buat nyuci piring itu. Ini adalah teknologi dari Qualcomm yang membuat layar tetap terlihat cerah dan jelas ketika dipandang di bawah terik sinar matahari sekalipun.

Layar Andromax A tidak menggunakan lapisan kaca kuat macam Dragontrail or Gorilla Glass. Hanya ada anti gores bawaan yang udah terpasang sejak dari boxnya. Kualitasnya?  Mudah tergores dan membekas. Saran saya, lebih baik pasang tempered glass yang lebih tangguh.

Untuk smartphone Rp600 ribuan, konektivitas 4G LTE adalah suatu kemewahan. Gadgeteers bisa leluasa streaming YouTube … selama masih ada kuota. Awal aktifkan paket internet, Gadgeteers sudah dapat bonus data 8GB. Oh ya, Andromax A juga udah native VoLTE, sama seperti Andromax R2 dan E2. 

VOLTE-Andromax-A-GG

Dari sisi tampilan antarmuka, Andromax A masih mengusung stock Android UI yang sama dengan seri Andromax 4G LTE lainnya. Minim kustomisasi, tidak bisa gonta ganti theme atau font. Untungnya Andromax A sudah dibekali fitur gestur, mulai dari double tap to wake, slide ke bawah untuk akses kamera hingga menggambar pola huruf tertentu untuk akses beberapa aplikasi langsung dari posisi idle. Tapi fitur-fitur gestur tadi tidak semulus yang dibayangkan. Double tap to wake untuk bangunkan layar sering gagal pertamanya, lalu lancar, lalu kadang tidak merespon sama sekali. Gestur pola pun demikian, bisa, tapi membukanya lumayan menguras kesabaran. Ya, namanya smartphone murah, ada fitur gestur saja sudah syukur alhamdulillah.

Berjalan dengan sistem operasi Android Lollipop 5.1, menngoperasikan Andromax A ini benar-benar smooth. Swipe menu di home screen hingga bolak balik pindah aplikasi di recent apps hampir tidak ada lag yang menyebalkan. Kapasitas RAM-nya hanya 1GB. Asal tidak membuka terlalu banyak aplikasi bersamaan, smartphone ini tidak akan jadi lambat. Lagi pula sistem Android sekarang lebih bijak dalam mengelola aplikasi. Kalau ada yang sudah tidak terpakai bakal langsung ditendang dari background.

Android-Andromax-A-GG

UI ini lumayan bersih dari bloatware. Hanya ada aplikasi My Smartfren dan kumpulan aplikasi Google yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Jadi kapasitas penyimpanan internal yang hanya 8GB ini tidak terkorbankan dengan aplikasi yang tidak terlalu penting. Gadgeteers bisa memanfaatkan sisa kapasitas penyimpanan sekitar 4GB untuk install aplikasi yang penting dan manfaatkan slot penyimpanan eksternal up to 32GB buat menyimpan musik, foto atau video.

Mendengarkan musik di Andromax A ini asyik juga lho berkat fitur Snapdragon Audio+. Di sini Gadgeteers bisa setting equalizer, menambah kekuatan bass & surround sound-nya. Efek-efek audio tersebut hanya bisa terdengar maksimal jika memakai earphone tapi fitur ini jadi kurang optimal kalau mendengarkannya pakai earphone bawaan. 

Sejujurnya saya tidak pernah terkesan dengan kualitas kamera di smartphone Andromax, tak terkecuali Andromax A. fokus otomatisnya lamban dalam mengunci objek, shutter to shutter-nya lumayan cepat tapi masih terasa ngos-ngosan saat mengambil banyak gambar sekaligus. UI kameranya sangat sederhana. Selain menu setting standar, ada mode auto dan mode lain dari portrait sampe snow yang pada dasarnya hanya membedakan settingan ISO dan white balance-nya.

Camera-Andromax-A-GG

Dibekali kamera 5MP dengan bukaan lensa f/2.4, hasil fotonya sepintas terlihat bagus tapi kalau lihat lebih detail, tampak oversaturasi alias warna yang dihasilkan terlalu ngejreng, tidak alami. Foto di pagi hari juga terlihat seperti sudah siang karena brightness-nya yang berlebihan. Mode HDR masih kurang optimal buat menyamakan perbedaan exposure objek foto, tidak ada perbedaan yang signifikan antara HDR dan non HDR. Bagaimana dengan kamera depan? Sama-sama punya resolusi 5MP, warna hasil foto kamera depan lebih alami, hanya detail ketajaman fotonya masih di bawah kamera belakang. Noise masih menghantui dan mengurangi detail objek untuk foto-foto indoor tapi masih dalam batas wajar. Gadgeteers bisa rekam video HD 30fps dengan kamera depan dan belakang. Hasilnya? Parah. Video tampak patah-patah dan banyak detail objek yang hilang.

Untuk menunjang semua fiturnya, Andromax A dibekali dengan baterai berkapasitas 1.950 mAh. Tidak ada yang spesial, buat penggunaan yang relatif standar seperti browsing, mendengarkan streaming musik dan selfie ala-ala bersama teman, screen on time-nya sekitar 3.5 jam. Charger-nya punya output 1A yang pas dipakai buat mengisi daya smartphone ini dari 5% sampe penuh butuh waktu sekitar 2.5 jam.

Dibanderol di bawah Rp650 ribu, tentu Gadgeteers tidak bisa berharap mendapatkan performa kebut di Andromax A. Untuk bermain game dengan grafis standar seperti Tahu Bulat sih cukup nyaman tapi saya tidak menyarankan memainkan game-game 3D dengan grafis berat di smartphone dengan chipset 32-bit quadcore Snapdragon 210 & GPU Adreno 304 ini. Bagi para Jamaah AnTuTudiyah, skor benchmark Andromax A ada di sekitar 19 ribuan. Untuk sensor, smartphone ini hanya dibekali dengan beberapa sensor utama saja seperti proximity, accelerometer, dan juga sensor cahaya. Gyroscope? Jangan berharap.

Games-Andromax-A-GG

Lalu, untuk siapakah Andromax A ini? Smartphone ini jelas bukan untuk Gadgeteers yang suka bermain game atau foto-foto pakai smartphone. Dengan teknologi Sunlight Visibility Improvement dari Qualcomm, koneksi 4G LTE dan ketersediaan GPS, smartphone ini cocok buat ojek atau kurir online karena pekerjaan sehari-hari yang menuntut mereka untuk lebih banyak berada di luar ruangan, menerima order dengan cepat dan mencari alamat. Harga Andromax A yang sangat terjangkau membuatnya juga cocok dijadikan smartphone pertama untuk anak, adik atau keponakan kita yang masih SMP atau SMA.

Topik Hot Lainnya:   [REVIEW] Ultimate Tennis, Game Sport dengan Grafik HD dan Gameplay yang Seru

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + five =