Beranda Review

Review Smartfren Andromax E2+

37
0

Masih ingat dengan Andromax E2? Smartfren kini punya penerusnya dengan embel-embel “plus” di belakangnya. Apa saja kelebihan dan kekurangan Andromax 4G LTE baru ini? Saya Arya dari @Gadgetgaul dan inilah ulasan lengkap Andromax E2+

Mari kita ulas dari desain. Beda dengan E2 yang digarap oleh pabrikan Haier, E2+ kini diproduksi oleh Hisense. Terlihat dari penampilan bodi yang lebih tegas dan kotak, tidak banyak lengkungan khas hape2 buatan Hisense. Penampilannya semakin terlihat elegan dan kokoh dengan frame berbahan metal seperti yang ada di Andromax R2.

Desain E2 Plus ini tidak unibodi alias bisa dibuka backcover-nya dan baterainya removable. Tidak sulit membukanya tapi saya khawatir dengan back cover ini karena tipis banget dan sepertinya mudah patah. Sisi menariknya, material plastik doff yang membungkus bodi belakang ini dipoles dengan halus dan bahannya tidak lengket karena keringat atau minyak dari telapak tangan usai dipakai lama-lama. Penempatan 3 tombol fisik volume dan power cukup terjangkau dan tombol-tombolnya juga empuk.

Desain-Andromax-E2+-GG

Tidak ada hal baru yang bisa saya temukan di bagian depan E2+, LED notifikasi juga masih absen. Ukuran layar pun masih sama yaitu 4.5-inci dengan resolusi 854×480 (FWVGA). Sudah pasti tidak setajam layar HD namun jika hanya menggunakannya untuk Twitter, Path atau Instagram, smartphone ini sudah terasa cukup nyaman. Layar E2+ tidak dilindungi lapisan kaca kuat seperti Gorilla Glass atau Dragontrail. Hanya ada anti gores bawaan yang sudah terpasang sejak dari box. Cukup untuk melindungi sementara tapi tidak akan tahan lama karena mudah meninggalkan bekas saat terkena goresan-goresan halus. Layar ini berteknologi On-lense Clear aDhesive (OCD) yang membuat tampilan layar E2+ terlihat jernih saat dilihat di bawah terik matahari dan membuat layar sentuh ini terasa sangat responsif.

Responsifnya layar Andromax E2+ ini tidak lepas dari peran sistem operasi Android Lollipop 5.1 yang memang terkenal dapat membuat smartphone low-end ngacir meski dengan spesifikasi minimalis. Tampilan antarmukanya stock dan cenderung membosankan karena tidak ada pilihan themes atau font yang bisa digonta-ganti secara native. Alhamdulillah meski murah, E2+ sudah dibekali fitur smart screen alias gesture, mulai dari double tap to wake, flip to mute sampai menggambar pola tertentu untuk mengakses aplikasi secara cepat. Sebenarnya tidak terlalu cepat, saat mengetuk layar menggunakan jempol, layarnya tidak langsung nyala. Layar baru nyala di percobaan ke-2 dengan ketukan yang lebih keras dan kadang buat geregetan kalau kita sedang buru-buru ingin menggunakan smartphone ini.

Topik Hot Lainnya:   HMD Global Luncurkan Nokia 2 di Indonesia. Inilah Spesifikasi & Harga Resminya

Kalau dibandingkan dengan E2, peningkatan utama yang ada di E2+ ini ada pada kapasitas RAM dan penyimpanan internalnya. Dibekali RAM 2GB, Gadgeteers tidak perlu khawatir membuka banyak aplikasi atau main game dengan kebutuhan RAM besar di smartphone ini. Free RAM-nya juga jarang menyentuh angka di bawah 1GB, seringnya berada di kisaran 1.1-1.3GB meski sambil buka banyak aplikasi. Jadi kita tidak perlu lagi khawatir smartphone jadi sering restart karena kehabisan RAM.

UI-Andromax-E2+-GG

Dengan penyimpanan 16GB, Gadgeteers bisa install lebih banyak aplikasi atau game berukuran besar. Di luar penggunaan untuk sistem, sisa penyimpanan yang ada buat pengguna sekitar 11.5GB. Kalau merasa kurang, kapasitas tersebut masih bisa diperbesar lagi dengan microSD yang mendukung hingga kapasitas 64GB. Untuk menekan harga, absennya fitur USB OTG di Andromax E2+ memang harus diikhlaskan.

Dibekali Dolby Digital, kualitas audio smartphone ini tidak bisa disepelekan. Ada 4 mode audio dan 2 slot kustom yang bisa dipilih dan diatur sesuai kebutuhan, mau itu nonton film, dengarkan musik atau main game. Kalo masih kurang puas, Gadgeteers bisa atur sendiri grafik equalizer-nya yang dirasa nyaman di telinga. Audio Dolby-nya baru terasa maksimal kalau didengarkan menggunakan earphone. Mengingat earphone bawaan Andromax E2+ ini memang kurang greget, saran saya lebih baik gunakan earphone lain yang lebih berkualitas. Bagaimana dengan keluaran audio di speaker-nya? Cukup lantang dan tidak sember tapi karena posisi speaker ada di bodi belakang, posisi smartphone memang harus ditelungkupkan supaya suaranya keluar dengan maksimal.

Dengan jaringan 4G LTE dari Smartfren yang sudah menjangkau 188 kota dan kabupaten di Indonesia, kini Gadgeteers tidak perlu galau internet lelet saat berpergian keluar kota. Sama seperti Andromax A, smartphone ini juga telah mendukung native VoLTE sehingga tidak perlu aplikasi pihak ke-3 saat ingin melakukan panggilan telepon pada jaringan Smartfren.

Dolby-Andromax-E2+-GG

Di sektor fotografi, Andromax E2+ masih belum move on dari resolusi kamera 5MP di depan dan belakang. Seperti smartphone Andromax lain, UI kameranya minimalis dengan pengaturan standar dan minim mode yang ditawarkan. Buat foto-foto di luar ruangan, hasil foto kamera belakang ini cukup apik di kelasnya. Warnanya natural, detailnya dapat, kontrasnya oke. Baru terlihat hasil kamera ini tidak terlalu tajam saat foto di-zoom atau dilihat dari laptop.

Topik Hot Lainnya:   [REVIEW] Snapchat, Aplikasi Berbagi Foto Saingan Instagram

Fitur HDR cukup membantu untuk menyelaraskan perbedaan exposure antar objek di dalam foto. Untuk foto makro juga detailnya dapat meski awalnya sulit untuk mengunci fokus kalau diambil dari jarak yang dekat. Dengan sensor BSI dan bukaan lensa f/2.4, hasil foto-foto di kondisi low-light lumayan terang meskipun di sana sini masih terlihat cukup banyak noise. LED flash pada smartphone ini single tone.

Sama-sama usung resolusi 5MP, lensa kamera depan Andromax E2+ adalah wide-angle sehingga asyik buat we-fie bersama teman-teman. Foto-foto di tempat yang remang-remang juga tidak masalah. Ada LED flash di bagian depan. Hanya saja saya pribadi kurang suka selfie menggunakan LED flash karena cahayanya terlalu terang dan pose selfie malah jadi tidak maksimal karena saya harus menyipitkan mata akibat silaunya LED flash tadi.

Kamera-Andromax-E2+-GG

Kamera depan-belakang Andromax E2+ ini sama-sama bisa merekam video dengan resolusi maksimal HD pada 30fps, tanpa mode slow motion apalagi time lapse. Hasilnya sudah oke, smooth. Hanya saja terkadang fokusnya masih suka lompat sana sini.

Dengan beberapa fitur kekiniannya, Andormax E2+ ternyata diotaki chipset Qualcomm Snapdragon 212 yang arsitekturnya masih 32-bit. Chipset empat inti dengan clock speed 1.3GHz ini sanggup digunakan untuk bermain game-game HD. Hanya saat mode game di-set ke grafis tinggi, performa GPU Adreno 304 ini bakal ngos-ngosan dan tidak jarang terjadi frame drop.

Sensor-sensor yang tertanam di smartphone ini minimalis. Tidak ada sensor orientasi dan gyroscope, jadi jangan berharap dapat nonton video 360 atau main game-game VR di Andromax E2+. Selain itu, kapasitas baterai smartphone ini juga bikin ketar ketir buat Gadgeteers yang setiap hari eksis di media sosial dan main Pokemon Go. Hanya 1.900 mAh, screen-on time bertahan di sekitar 3 jam dengan pengggunaan yang relatif sedang seperti membalas chat, mendengarkan musik, streaming YouTube, foto-foto sesekali, dan main game untuk mengisi waktu luang.

Performa-Andromax-E2+-GG

Jadi siapakah yang cocok menggunakan Andromax E2+? Meski saat peluncurannya smartphone ini diklaim sebagai smartphone untuk para heavy gamers karena RAM 2GB dan penggunaan chipset tertinggi di antara keluarga Snapdragon 200 lainnya, saya tidak melihat Andromax E2+ sebagai smartphone untuk para heavy gamers dan para Jamaah Antutudiyah yang menyembah spesifikasi. Smartphone ini @GadgetGaul rekomendasikan untuk Gadgeteers yang membutuhkan smartphone 4G LTE dengan dana di bawah Rp1.2 juta dengan kemampuan yang relatif baik dalam menjalankan beberapa aplikasi sekaligus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two + three =